Kegiatan penambangan tanah telah merusak ratusan bahkan ribuan rumah bagi hewan-hewan yang hidup di bukit itu. Pohon-pohon telah ditebang dan tanahnya dikeruk hingga rata. Setiap hari, banyak truk-truk berukuran raksasa hilir mudik membawa tanah dari bukit itu yang entah kemana tanah itu akan dibawa. Kendaraan alat-alat berat beroperasi setiap hari mengeruk tanah dari bukit itu. Ya, kini bukit yang berada di daerah Semarang itu, memang sudah tak hijau lagi. Dalam waktu sekejap manusia telah dapat merubah keindahan menjadi kehancuran.
Padahal pepohonan yang ada di bukit itu berfungsi sebagai pengikat air hujan untuk kemudian disimpan ke dalam tanah. Kalau pohonya sudah tidak ada lagi, maka mau disimpan kemana air hujan itu, nantinya?. Selanjutnya, air tanahpun juga akan kotor karena tidak ada filter atau penyaring air. Air hujan akan masuk ke dalam tanah dan langsung keluar begitu saja, tanpa ada yang menyaring dan menyimpannya di dalam tanah. Selain akan timbul bencana seperti tanah longsor dan banjir akan masih banyak lagi bencana-bencana alam lainnya, yang datang akibat kerusakan yang telah kita buat.
Dibalik kehancuran bukit itu, banyak nyawa yang bergantung hidup di sana. Ratusan orang bekerja pada penambangan tanah tersebut. Himpitan ekonomi membuat mereka melakukan ini semua. Tak peduli apakah alam akan rusak atau hewan akan punah, yang penting bagaimana caranya untuk dapat membeli beras untuk makan esok hari. Ironi memang, lagi-lagi alam yang harus jadi korban. Jika sudah begini, siapa lagi yang harus disalahkan?. Masing-masing dari kita mempunyai persepsi sendiri-sendiri untuk menjawabnya. Jika pohon terakhir sudah ditebang dan tanah terakhir sudah dikeruk, maka manusia akan sadar bahwa mereka tidak bisa memakan uang!.
Let’s Save Our Environment. NOW!
Artikel Terkait
- Hati-hati, Alat Detektor Pencemaran Udara di Semarang, MATI!
- Selamat Tinggal Kantong Plastik!
- Suyadi, Sang Maestro Lingkungan Sejati!
- Muara Angke yang Tidak Angker
- Anak-anak SD Ini, Penyelamat Pesisir Kita!
- Air Untuk Masa Depan
- Bukit Gundul, Tergerus Oleh Keserakahan Manusia
- Bukan Pangkas Rambut, Tapi Pangkas Pohon!
- Airku Sayang, Airku Malang
- “Tolong..., Jangan Asinkan Air Kami!”
hal itu juga terjadi dilingkungan rumah saya..
yang awalnya dikelilingi oleh hamparan hijau sawah yang indah, tapi sekarang cuma hamparan coklat gersang yang mengelilingi..
ada buruk dan baiknya si sebanarnya..tp jujur..saya lebih suka..tinggal ditempat yang dikelilingi sawah hijau daripada dikelilingi rumah2 eliit yang baguus...
semoga kedapannya..kita semua bisa memperbaiki kondisi lingkungan sekarang ini..
amiiin..
Saya Turut Prihatin mas. Maka dari itu mas, tugas kita adalah mengingatkan kepada rekan-rekan dan teman kita untuk selalu menjaga lingkungan dan tidak serakah dalam mengeksploitasi alam.
Let's Save Our Environment. NOW!
sama seperti di daerah saya mas, hutan sudah semakin gundul